Salah satu falsafah orang jawa yang saya pahami sebagai menerima apa adanya, mensyukuri apa yang telah saya terima baik itu kesenangan maupun kemalangan, keruwetan maupun kemudahan, kesempatan ataupun tantangan. Takdir baik ataupun buruk,semua datang dari sang pencipta. Manusia hanya berusaha dengan segala kemampuan yang telah sang pencipta berikan, hasilnya kita serahkan kembali pada-Nya. Baik-buruk tergantung dari sudut mana menilainya,semua ada hikmahnya.

Semua tindakan pasti ada nilai pertanggung jawaban pada-Nya. Manungso iku manunggaling rasa lan karsa, tempatnya salah dan lupa. Tindakan “baik” manusia belum tentu menghasilkan 100% kebaikan, kadang menimbulkan bias yang berupa keburukan terhadap orang lain. Niat baik belum tentu menghasilkan tindakan yang baik/benar. Mungkin inilah sebabnya banyak orang yang bilang “Berpikirlah sebelum bertindak”.

Apa yang saya lakukan ketika mendapat perlakuan yang kurang baik dari orang lain? atau saat menjadi “korban” atas tindakan “benar” orang lain? Haruskah saya membalasnya? haruskah saya menuntutnya? haruskah saya mencaci-maki dan menyumpahinya?
Sampai pada tingkat tertentu saya jawab “TIDAK”. Jika saya membalasnya, lalu apa bedanya saya dengan orang tersebut? Jika mencacinya, apakah saya menjadi orang yang lebih baik darinya? ah… rasanya tidak juga. Mengoreksi diri dan mengambil pelajaran jauh lebih baik dari membalas,menuntut ataupun mencaci. Mungkin dulu entah kapan dan kepada siapa, tindakan saya pernah merugikan orang lain tanpa saya sadari, dan ini adalah balasanya. Bukankah setiap kesalahan sekecil apapun pasti ada balasanya? Ya kalo gak dibalas di dunia ya di ahirat nanti. Masih mending dibalas didunia, masih bisa memperbaiki diri, lha kalo dibalas di ahirat nanti pintu tobat sudah tertutup.

Emosi adalah manusiawi, marah, geram pengen njotos ndase, adalah perasaan yang manusiawi. Manusia sulit dilarang untuk tidak emosi, sulit dilarang untuk tidak marah, jangan dicaci ketika ia emosi, jangan diolok-olok ketika ia marah, jangan direndahkan, jangan diremehkan, “Ojo Dumeh”. Apakah cacian lebih baik dari emosi? Apakah olok-olok lebih baik daripada marah? apakah meremehkan, merendahkan itu sesuatu yang lebih baik? Bagi saya, Tidak.

Apakah saya menulis ini dengan emosi? apakah saat ini saya sedang marah? Jawabanya “May”. May be no, may be yes.

Ah…. malah ngelantur.

Saya mohon maaf atas kesalahan yang sengaja maupun tidak sengaja telah saya lakukan. Terima kasih atas semua yang telah saya terima, baik maupun buruk, semoga anda menerima balasanya. Saya bersyukur. Saya manusia biasa. Diatas yang baik,masih ada yang lebih baik.